Tragedi Guru Budi, Kita Harus Pintar Menyikapi

Hari ini sengaja penulis ingin sedikit membahas tentang kasus terbaru yang amat hangat untuk diperbincangkan, dimana seorang siswa yang m...

Hari ini sengaja penulis ingin sedikit membahas tentang kasus terbaru yang amat hangat untuk diperbincangkan, dimana seorang siswa yang menganiaya seorang guru hingga harus  merenggut satu nyawa yang tak berdosa. Seakan menarik untuk dibahas, padahal sebenarnya miris untuk kita angkat.

Untuk mengawali tulisan kecil ini, ada beberapa pertanyaan nakal yang ingin saya tanyakan. Tentang, Bagaimana pendapat anda tentang kejadian ini? Apakah benar, jika anda sangatlah marah dari kejadian ini sehingga sepuas kita berargumen diluar kata wajar? Kita semua tahu, tentang siapa pelaku dan siapa yang menjadi korbannya. Lantas cara kita meluapkan rasa benci kita terhadap pelaku apakah harus dengan menge-share di berbagai media sosial dengan caption kata-kata kotor dan tak layak dikonsumsi umum? Benarkah pelaku adalah anjing, jancok, jin dan lain sebagainya?. Lantas apa kalimat itu tidak dibaca umum sementara posisi kita sama dengan korban?. Atau bahkan lebih dari itu.

Mari kita perhatikan. Tidak hanya tentang kasus ini, tapi juga memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas. Pada hakekatnya ini adalah memang sebuah kesalahan besar, karena memang benar bahwa guru adalah sosok yang wajib kita hormati, sayangi dan harus kita patuhi.

Ingin kujelaskan juga. Bahwa tulisan ini tak sedikitpun memihak. Tapi tulisan ini adalah penengah yang sejatinya juga banyak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mana pelaku dan mana korban. Mana yang sedih dan mana yang kecewa, dan yang mana yang sangat tidak menyangka.

Tidak ingin mentitikfokuskan bahwa kesalahan ini adalah milik seorang siswa tersebut. Toh dia juga manusia biasa yang tidak akan pernah lepas dari salah dan khilaf. Memang, kita akui ini adalah kesalahan diluar kata wajar. Namun, apakah dengan seperti ini kita menyikapinya?

Ada beberapa hal yang harus kita ingat, bahwa semua apa yang kita lakukan akan ada konsekuensinya, dan tentu pelaku akan menerima akibat, tak terlepas juga tentang apa yang menjadi argumen kita yang berlebihan di media sosial. Dua sisi yang perlu kita sama-sama pahami, tentang bagaimana nasib korban dan bagaimana kesedihan dan duka keluarga yang ditinggalkan. Tidak hanya itu, pun juga perlu kita memahami posisi pelaku, yang juga manusia biasa, masih dibawah umur juga yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Bukan malah kita hujat, karena memang dia akan tetap salah tanpa harus kita hujat dan hujat.

Pada intinya. Sekali lagi ini memang sebuah kesalahan. Salahnya pelaku adalah kepada korban yang merupakan gurunya, bukan kepada kita yang justru mencacinya. Lantas siapa kita?. Akan lebih benar dan bijak. Kasus ini bukan murni untuk kita komentari dan kita menjadi event kalimat-kalimat tidak mendidik.

Lalu apa tugas kita?. Tugas kita adalah tergantung pada posisi kita apa dan dimana kita sekarang. Jika kita seorang guru, kita harus tetap menjadi pendidik yang baik, tanpa harus mengurangi rasa ikhlas itu. Peserta didik tetap anak kita sampai kapanpun, meskipun sejatinya tidak semua dari mereka akan bisa dan mau membalasnya. Kemudian jika kita saat ini masih dalam posisi peserta didik itu, kita wajib menghormati, menuruti bahkan tunduk kepada sang guru. Sejatinya guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang akan tetap menjadi salah satu sumber ilmu dan sumber pengetahuan. Dan jika kita ada dalam posisi sebagai orang tua. Tugas kita amatlah besar, bagaimana harus lebih intens menjaga dan mengawal perkembangan sang anak, sebab lingkunganlah yang dominan mampu membentuk kepribadiannya. Lalu jika kita adalah masyarakat umum? Ya, berbijaklah dalam menyikapi kasus ini. Berkomentarlah sewajarnya, toh kita juga manusia biasa, toh kita juga pernah jadi siswa dan jelas juga pernah berbuat salah dan menyakiti guru kita. 

Kasus ini bukan untuk kita perpanjang dengan segala argumen tanpa esensi penting yang tidak berisikan pendidikan. Maka bagaimana cara kita agar kejadian semacam ini bisa dijadikan sebagai evaluasi, dan mencari solusi bersama agar kejadian semacam ini tidak akan terjadi lagi. Kita harus kembali ke pengertian awal, bahwa pendidikan adalah usaha sadar yaitu dalam memanusiakan manusia.


Oleh: Aminullah Al-Farisi, mahasiswa STITAL semester 8 prodi PAI

COMMENTS

Nama

Artikel,8,Kolom,2,News,159,Opini,30,Resensi,1,Sastra,9,
ltr
item
Lembaga Pers Mahasiswa STITAL: Tragedi Guru Budi, Kita Harus Pintar Menyikapi
Tragedi Guru Budi, Kita Harus Pintar Menyikapi
https://4.bp.blogspot.com/-D2P4l-v0LHU/WnaC9ht00tI/AAAAAAAAAOM/yMiBV5NZ8bI6dRxJLiXVNS5l8A0M94KWgCLcBGAs/s1600/IMG-20180204-WA0006.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-D2P4l-v0LHU/WnaC9ht00tI/AAAAAAAAAOM/yMiBV5NZ8bI6dRxJLiXVNS5l8A0M94KWgCLcBGAs/s72-c/IMG-20180204-WA0006.jpg
Lembaga Pers Mahasiswa STITAL
http://www.lpm-mental.com/2018/02/tragedi-guru-budi-kita-harus-pintar.html
http://www.lpm-mental.com/
http://www.lpm-mental.com/
http://www.lpm-mental.com/2018/02/tragedi-guru-budi-kita-harus-pintar.html
true
7163121057848605904
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy