Karena Media Sosial Lupa Sosial

Oleh: Asrorul Ulum “Di dalam era globalisasi dan abad virtual dewasa ini, banyak konsep-konsep sosial seperti integrasi, kesatuan, pe...


Oleh: Asrorul Ulum
“Di dalam era globalisasi dan abad virtual dewasa ini, banyak konsep-konsep sosial seperti integrasi, kesatuan, persatuan, nasionalisme dan solidaritas tampak semakin kehilangan realitas sosialnya dan akhirnya menjadi mitos”
Yasraf Amir Piliang
Dunia yang Dilipat, Bandung, Matahari. hal. 89..
Konsep ideal makhluk sosial di Indonesia sudah diperkenalkan kepada generasinya sejak dini. Dalam pendidikan dasar saja kita akan akrab dengan kalimat sosial yang sangat bagus untuk kita terapkan dan sealaras dengan salah satu istilah sosial asli Indonesia: “Gotong Royong”. Maksudnya adalah “kita harus mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi”. Untuk istilah Gotong Royong saya rasa menjadi sangat otentik di Indonesia, istilah ini dalam bahasa Inggris adalah Gatherness yang memiliki arti kebersamaan. Kita semua tentu tahu bahwa kebersamaan merujuk pada berkumpulnya fisik dari beberapa orang dengan posisi atau melakukan sesuatu yang serupa atau sama. Tapi tidak dengan Gotong Royong. Kata ini merujuk pada sebuah kegiatan yang dilakukan bersama atas dasar kesamaan pandangan dan kedekatan rasa persaudaraan. Sehingga dalam Gotong Royong tidak semua individu melakukan hal yang serupa dengan yang lain, tetapi mengisi kekosongan kebutuhan dari yang lain.
Namun di era Globalisasi ini akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, realitas nilai-nilai kearifan lokal,  norma dan etika  sudah mulai ditinggalkan.  Bahkan seperti pada kutipan statement di atas realitas sosial mejadi kehilangan nilainya, bahkan menjadi sekedar mitos. Dalam kutipannya Amir Piliang sempat menyinggung bahwa akibat kemajuan teknologi, terutama teknologi trnsportasi dan informasi, ruang dan waktu dilipat dengan sangat rapi sehingga dalam lipatan tersebut ada ratusan realitas sosial yang harus “terbunuh”. 
Belakangan ini istilah Phobing menjadi popular kembali setelah pada awal kemunculannya pada tahun 2003 yang lalu sempat mengguncang jagad periklanan produk kapitalis dunia yakni telekomunikasi. Phobing adalah kegiatan bermain Gadget yang berlebihan (diluar batas kebutuhan) sehingga membuat orang yang menggunakannya tidak menghiraukan lingkungan sosialnya atau bahkan acuh sosial. Orang yang sedang asik Phobing akan menciptakan keaasikan tersendiri dengan Gadget yang dipegangnya meskipun dia sedang berada atau berkumpul dengan teman atau keluarganya.
Phobing sendiri pada prinsipnya bertentangan dengan kebisaaan masyarakat yang menjunjung tinggi etika dan norma. Kita semua tentunya sepaham kalau kita sedang berkumpul bersama teman dan keluarga, lalu asik sendiri dengan Smart Phone di tangan. Hal ini  merupakan perbuatan yang tidak sopan. Dan itu semua sudah menjadi kebiasaan,  bahkan membuat candu bagi kita semua.
Akibatnya ketidakmampuan untuk bersikap bijak menggunakan fasilitas modernisasi milenial ini  seperti media sosial dan semacamnya ialah runtuhnya akal sehat beserta nilai etisnya. Kalau saja kita ingin meningkatkan kepekaan dan pengetahuan kita, kita cukup dengan membaca buku. Tapi kalau kita ingin memproduksi kebencian berlebih maka kita cukup menggerakkan jari kita dan masuk pada media sosial. Ya, media sosial sekarang ini sudah melampaui fungsi sosialnya. Dengan media sosial kita dapat meningkatkan produksi kemarahan kita hanya dalam hitungan detik, apalagi kalau kita masuk dalam lingkaran perdebatan politik. Selain memproduksi kemarahan yang berlebih, media sosial juga menjadi rimba informasi yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kevalidannya. 
Dengan suapan informasi yang tidak credible bahkan saling bertentangan antara informasi satu dengan informasi yang lainnya, akan menciptakan situasi berhadapan antara dua belah kubu dan saling serang (vis a vis). Lebih jauh  lagi cekokan informasi yang sebenarnya tidak kita butuhkan akan menciptakan “pembodohan” tingkat Nasional yang bertentangan dengan prinsip literasi media di Indonesia yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Terjadinya kekacauan informasi tersebut pada akhirnya  akan tercipta perang terbuka. Perang yang jauh lebih berbahaya dari perang menggunakan senjata, yaitu perang kebencian yang bisa terjadi pada saudara dalam satu keluarga. Ketika hal itu sudah terjadi, maka situasi ysng melampaui kenyataan (Hyper Reality) benar-benar akan terjadi. Haiper realitas adalah sebuah keadaan yang sudah tidak lagi menunjukkan keadaan sebagaimana mestinya. Baik tidak seperti konsep maaupun  pada umumnya. Yang baik adalah yang membuat kita nyaman walau harus membuat orang lain terinjak-injak. Dan pada akhirnya pengajaran konsep bersosial yang ditanam di kepala kita sejadi dari kecil menjadi sesuatu yang sia-sia.
Akibat dari fenomena negatif yang diakibatkan produk moderenisasi ini mulai timbul kesadaran untuk bersikap bijak untuk  mengurangi adiktif dari Gadget dan semacamnya. Seperti kesadaran masyarakat perkotaan yang mengurangi konsumsi Gadget, baik untuk diri sendiri maupun juga anak-anak mereka. Dan pada prinsipnya Phobing yang saya sebutkan di atas adalah sebuah kreatifitas kesadaran dan gerakan sosial yang bertujuan untuk mendidik masyarakat dunia untuk bijak dalam menyikapi kemajuan Teknologi Informasi.
Maka kestabilan sosial menjadi terjamin dengan kebijaksanaan konsumsi informasi melalui sosial media, sehingga nilai-nilai luhur yang diwariskan tanpa Gadget terdahulu menjadi alat untuk mengontrol produk teknologi, bukan malah sebaliknya. Jika yang terjadi malah sebaliknya, maka tidak perlu Robotisasi untuk merubah dunia  menjadi lebih mudah, karena dengan kehilangan etika dan kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi akan membuat manusia menjadi makluk bermental robot. Dan itu adalah kecelakaan dunia yang paling besar dalam catatan sejarah manusia. Mereka akan menjadi makhluk pengidola ciptaannya sendiri. Semoga kita tetap sadar bahwa kita adalah makhluk paling mulia sehingga tidak menuhankan Gadget menjadi tambahan deretan daftar “tuhan-tuhan kecil” yang mengendalikan manusia yang mengaku beragama.

COMMENTS

BLOGGER: 1
Loading...
Nama

Artikel,8,Kolom,2,News,159,Opini,30,Resensi,1,Sastra,9,
ltr
item
Lembaga Pers Mahasiswa STITAL: Karena Media Sosial Lupa Sosial
Karena Media Sosial Lupa Sosial
https://1.bp.blogspot.com/-GqPpCj6aGUk/XYOGmxLAw1I/AAAAAAAABdk/R_QMe6-52CM3mpvlbn_qMl8aG3r7p-lgwCLcBGAsYHQ/s320/IMG-20190919-WA0102.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-GqPpCj6aGUk/XYOGmxLAw1I/AAAAAAAABdk/R_QMe6-52CM3mpvlbn_qMl8aG3r7p-lgwCLcBGAsYHQ/s72-c/IMG-20190919-WA0102.jpg
Lembaga Pers Mahasiswa STITAL
http://www.lpm-mental.com/2019/09/karena-media-sosial-lupa-sosial.html
http://www.lpm-mental.com/
http://www.lpm-mental.com/
http://www.lpm-mental.com/2019/09/karena-media-sosial-lupa-sosial.html
true
7163121057848605904
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy