Pengorbanan Sejati

Diamku adalah cara terbaik untuk mengekspresikan rasa ini Rasa sakit dan perih itu sudah pasti Namun, wanita sangat pandai menyimpan pe...

Diamku adalah cara terbaik untuk mengekspresikan rasa ini
Rasa sakit dan perih itu sudah pasti
Namun, wanita sangat pandai menyimpan perasaan dalam hati..


Embun dipagi hari menciptakan kesejukan yang hakiki, matahari masih enggan memancarkan sinarnya. Terdengar suara merdu kicauan burung yang mampu menghidupkan suasana dipagi hari. Terlihat orang-orang berlalu lalang menjalankan aktivitasnya masing-masing.
Disisi lain, terlihat dua wanita yang sedang asyik bercengkerama dibawah pohon rindang, beralas rerumputan dan diselimuti kesejukan yang menambah suasana kebahagiaan. Sesekali terdengar suara gelak tawa dari keduanya.
“oh iya Na, kemarin kamu dicari loh sama Afdal”. Ucap Inayah
“iya kah?”. Ucap Ana dengan wajah berbinar. “terus dia bilang apa sama kamu?”. Sambungnya dengan sangat antusias.
“enggak bilang apa-apa sih dia cuma nanya kabarmu aja”. Jawab Inayah.

Perbincangan itu terus berlanjut, topik tentang Afdal akan selalu menarik mejadi topik pembahasan mereka. Lelaki tampan dan baik hati menambah nilai plus dikalangan para wanita.
Namun, masalah hati tak ada yang tau, rasa yang tak bisa dikendalikan oleh setiap diri seorang insan. “Mengagumi dalam diam” itulah yang dirasakan oleh Inayah saat ini.

Di suatu hari..
Inayah merenung di balkon kamarnya, ditangannya terlihat sebuah buku kecil berwarna merah muda berpadu dengan abu-abu, diary.
Hanya diary yang setia menjadi tempat aduan hatinya saat ini. Huruf demi huruf mulai ia rangkai menjadi kata, kalimat, bahkan menjadi paragraf. Yang menggambarkan perasaannya saat ini.                                             
                     Di balkon yang sunyi
                     Sabtu, 02 November 2018

Dear diary..             
-Masih sama dengan yang lalu, tentang hati yang rapuh-
Tak apa bila aku yang terluka, aku mencoba menyemangati hati ini yang semakin hari semakin terasa rapuh. Yang terpenting  saat ini adalah kebahagiaan sahabatku. Aku sadar bahwa aku tidak boleh egois.
Cinta memang tak harus memiliki, mencintainya dalam diam dan selalu menyebut namanya disetiap doa itu sudah cukup bagiku.

Aku sadar..
Aku bukanlah siapa-siapa baginya. Hadirnya diriku hanyalah seperti angin yang berlalu. Yang menjadi tujuanku saat ini adalah bisa menyatukan kalian agar terciptanya sebuah kebahagiaan.
Maafkan aku yang udah lancang menyayangimu dalam diam, hanya ini yang bisa kulakukan                                                                                   Me.....                                                                                                       Pengagum rahasiamu
           
Air mata terus mengalir membasahi pipinya, mengiringi setiap kata yang ia tulis. Hatinya basah ketika bayangan itu hadir, bayangan yang selalu menghantui pikirannya. Sekian lama ia berada dalam pasungan rasa yang selama ini ia pendam.

Disuatu hari...
Inayah mencoba mengajak Afdal berbincang-bincang disuatu taman. Mereka duduk diatas batu dekat air mancur taman. Langit biru menjadi saksi bisu pertemuan mereka. Inayah mengutarakan semua tentang apa yang dirasakan oleh sahabatnya, Ana.
Terlihat raut wajah Afdal seketika berubah seakan tak percaya mendengar penuturan Inayah. Pasalnya diam-diam ia menyukai Inayah, bukan Ana. Afdal bingung dihadapi pilihan yang rumit, ini semua menentukan masa depannya.
Dengan senyum yang dipaksakan Inayah mencoba meyakinkan Afdal bahwa sahabatnya adalah wanita baik-baik yang pantas untuk dijadikan teman hidupnya.
“gimana Afdal, kamu siapkan membahagiakan Ana ? karena aku gak mau sahabatku Ana menangis hanya karena cintanya tak terbalas, bagiku tangisnya adalah suatu kegagalanku dalam menjadi sahabatnya, dan aku ingin yang terbaik untuk sahabatku. Aku yakin kamu sosok lelaki yang baik dan bertanggung jawab”. Ucap Inayah.

Dengan berat hati, akhirnya Afdal menganggukkan kepalanya. Saat ini hati dan pikirannya tidak sejalan. Ia punya alasan tersendiri dari kesetujuan itu.
“sepertinya, tidak ada harapan bagiku untuk bisa mendapatkan Inayah. Dia sosok wanita yang sangat tulus, bahkan ia lebih mementingkan kebahagiaan sahabatnya. Mungkin ini yang bisa kulakukan untuk membuat Inayah bahagia, biarkan rasa ini hanya aku dan Tuhan yang tau”. Batinnya sedih.
Semenjak pertemuan itu, tak lama kemudian Afdal dan keluarganya mendatangi rumah Ana. Dengan maksud untuk meminang Ana. Hal itu disambut baik oleh keluarga Ana.

Satu minggu setelah kedatangan keluarga Afdal ke rumah Ana, tepat pada tanggal 30 Desember 2018 resepsi pernikahan mereka di selenggarakan di sebuah gedung mewah di jakarta.

Semua persiapan pernikahannya dibantu oleh sahabatnya, Inayah. Mulai dari feeting baju pengantin, undangan sampai souvenir dll. Perih yang ada dihati tak ia hiraukan, saat ini berpura-pura bahagia yang harus ia perankan. Ia senang sahabatnya sebentar lagi akan merubah statusnya menjadi seorang istri, namun disisi lain hatinya terluka karena lelaki yang selama ini menjadi impiannya kini harus ia relakan untuk sahabatnya.

Terlihat di suatu ruangan sudah banyak para tamu undangan yang hadir dan akan menjadi saksi diacara yang sakral. Ditengah tamu undangan sudah ada Afdal dan Ana yang berada didepan penghulu dan siap melaksanakan ijab qabul.

Afdal terlihat bagaikan pangeran tampan dengan balutan jas hitam dan kopiah yang berwarna senada, menambah kesempurnaan dalam penampilannya. Ana tak kalah cantiknya, bagaikan ratu di negeri dongeng dengan balutan kebaya putih dan make up natural yang memancarkan keanggunan dirinya.

Ijab qabul dimulai... penghulu menuntun Afdal melantunkan ijab qabul. Semenatara itu, Ana sedari tadi hanya menunduk dalam rasa kebahagiaan. Yang ada dalam bayangannya saat ini adalah bagaiamana caranya ia untuk bisa mengabdikan diri kepada suaminya.
Suasana seketika haru mendengar kata “SAH” dari para saksi. Ana mencium tangan Afdal yang kini menjadi suaminya dengan penuh keta’diman Afdal mencium kening Ana dengan penuh rasa sayang. Ini pertama kalinya ia mencium wanita selain ibunya. Rasa bahagia menyelimuti mereka.

Di ruangan itu semua nampak terlihat bahagia terutama kedua mempelai kecuali, satu wanita yang sedari tadi hanya menundukkan wajahnya dan air mata tak henti-henti mengalir membasahi pipinya. Yah.... wanita itu adalah Inayah. Ana pun memeluk Inayah dengan tangis bahagia.
“Ana, mulai saat ini kamu udah menjadi istri dari seorang pangeran impianmu sejak dulu. Sejak ijab qabul tadi dilantunkan olehnya saat itu juga ia sudah sah menjadi imammu, dan saat ini kamu adalah makmum baginya. Semoga dengan hadirnya Afdal dikehidupanmu bisa menuntunmu menuju jannah-Nya.” Ucap Inayah tersenyum, senyum yang dipaksakan.

Saat ini ia harus bisa menyembunyikan perasaannya lewat senyuman termanisnya. Terpaksa itu sudah pasti, namun ia tak ingin sahabatnya tau apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. “bibir tersenyum hati menangis” itulah yang diperankannya saat ini.

Mulai detik ini, lelaki yang selalu setia menemani pikirannya kini telah resmi menjadi milik sahabatnya, Ana. Mau tidak mau ia harus bisa melupakan lelaki itu. Ini semua akan menjadi kenangan dalam perjalanan hidupnya.
“aku harus bisa melupakan dia, biarkan aku membawa perasaan ini sendiri. Senyum sahabatku lebih berarti. Terimakasih telah memberikan aku pengalaman bagaimana rasanya ketika cinta terpendam dan takkan pernah bisa diungkapkan. Semoga Allah selalu menyertakan kebahagiaan dalam rumah tangga kalian. Bahagia kalian adalah bahagiaku juga. Aku yakin bahwa Allah telah mempersiapkan calon imam yang terbaik untukku.”. Batinnya sendu.

Percayalah skenario Allah Itu lebih indah, Allah akan memberikan yang terbaik untuk setiap hambanya.

Tetap bersyukur dan jangan pernah mengeluh, tetap bangkit dari keterpurukan. Masa depan menanti kita, masih banyak hal indah yang belum kita rasakan.

 Mendung menghampiri jiwa yang sepi
Angin membawa separuh jiwa pergi
Tak ada tanda-tanda ia akan kembali
Harus bagaimanakah aku mengekspresikan semua ini... 

Penulis : Nurul Hidayah

COMMENTS

Nama

Artikel,8,Kolom,2,News,159,Opini,30,Resensi,1,Sastra,9,
ltr
item
Lembaga Pers Mahasiswa STITAL: Pengorbanan Sejati
Pengorbanan Sejati
https://1.bp.blogspot.com/-qWFETSWsJxA/XiM0MwVq1pI/AAAAAAAABx0/kXite5zCL_sZT7X_Sr8fJGC5Vwllsh5IACLcBGAsYHQ/s320/IMG-20200118-WA0050.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-qWFETSWsJxA/XiM0MwVq1pI/AAAAAAAABx0/kXite5zCL_sZT7X_Sr8fJGC5Vwllsh5IACLcBGAsYHQ/s72-c/IMG-20200118-WA0050.jpg
Lembaga Pers Mahasiswa STITAL
http://www.lpm-mental.com/2019/12/pengorbanan-sejati.html
http://www.lpm-mental.com/
http://www.lpm-mental.com/
http://www.lpm-mental.com/2019/12/pengorbanan-sejati.html
true
7163121057848605904
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy