Eksistensi Pemuda Dalam Persepsi " Gincu atau garam" ?

Kemajuan peradaban mayoritas ditentukan oleh peran aktif generasi muda. Ada sifat-sifat khusus yang melekat dalam diri anak muda yang...


Kemajuan peradaban mayoritas ditentukan oleh peran aktif generasi muda. Ada sifat-sifat khusus yang melekat dalam diri anak muda yang membuat generasi muda sangat diperlukan sebagai agen perubahan sosial. Melalui berbagai ajaran Qur’an dan pemikir Islam terkemuka, kita bisa menggambarkan beberapa kebijakan disarankan tentang cara membuat generasi muda yang lebih baik. Instropeksi diri, keterpaduan dengan moralitas yang baik, dan ketekunan dalam mengejar apa yang tujuan hidup kita anggap layak dijelaskan.

Berbicara tentang  pemuda berarti berbicara tentang masa depan, pemuda adalah harapan, dan pemudalah penerus peradaban. Di tangan merekalah terletak baik buruknya suatu bangsa. Kala pemudanya baik, maka baiklah bangsa itu. Sebaliknya, bila pemudanya buruk (berakhlak buruk), maka bangsa itu tinggal menunggu datangnya kehancuran. Kuantitas yang besar tidak berarti bersanding dengan kualitas. Maksudnya, dengan jumlah pemuda yang besar tidak akan bernilai apapun disaat tidak ada prodak khusus atau sedikit sekali yang berkarya, mandiri, profesional, serta bermoral.

Generasi perlu menyuarakan “kamilah orangnya, jangan tunggu lagi yang lain.” Katakanlah, kitalah pemuda yang lahir dinegara mayoritas muslim. Sebagai seorang negarawan yang baik, kita bertekad kuat untuk mempersembahkan yang terbaik untuk bangsa ini.

Ada beberapa point yang bisa kita peruntukkan pada negeri ini: Pertama, moralitas yang tinggi. Pemuda harus tahu mana yang hak dan yang bathil. Pemuda harus paham dan memiliki jiwa dengan moralitas tinggi sebagai anak bangsa. Harapannya, agar tidak ada lagi KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) bila telah membaur dengan generasi tua yang sebagian selalu setia dengan gelar tambahannya, yaitu koruptor. Lucunya sang koruptor bagaikan kura-kura dalam perahu. Kita pemuda perlu menunjukkkan kesetiaan terhadap negara dengan moralitas yang tinggi. 

Berbicara tentang moralitas yang pada dasarnya adalah membicarakan tentang akhlakul karimah. Dimana akhlak meruapakan parameter harga diri seseorang dalam hidupnya. Akhlak yang baik adalah kepribadian yang baik. Kepribadian yang baik adalah kemuliaan hidup yang sejati. Ujungnya kepribadianlah yang paling berharga pada diri seseorang. Harta yang banyak bukan penentu jaminan kualitas kemuliaan hidup seseorang, karena harta adalah fitnah, maka harus berhati-hati. Lihat saja Qarun, betapa banyak hartanya, namun Allah mencapnya dalam Al-Qur’an sebagai hamba yang hina. Jabatan juga bukanlah jaminan kemuliaan hidup seseorang, karena jabatan juga fitnah. Betapa banyak orang cerdas, yang akhirnya diseret ke dalam tahanan.

Rasulullah SAW bersabda: ”Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”(HR Tirdmizi)

Berbanding terbalik akhlak buruk dengan akhlak yang baik, yang merupakan fitrah dari Yang Maha Kuasa kepada hamba-Nya. Setiap orang dibekali untuk menjadi terhormat karena akhlaknya. Kemulian itu, bukan karena jabatan, bukan karena harta, bukan pula karena tampang yang rupawan. Tapi kemuliaan itu karena akhlak yang baik. Siapapun dan dari mana pun, yang paling mulia adalah yang paling baik akhlaknya. Akhlak yang baik adalah parameter kesempurnaan iman seseorang.  

Imam Syafi’i mengatakan: ”Hidupnya pemuda itu adalah karena dua hal (ilmu dan takwa). Jika kedua kualifikasi itu tidak dimilikinya, maka pemuda itu sesungguhnya adalah mati.” Dari pernyataan Imam Syafi’i ada dua hal yang mutlak harus dimiliki oleh para generasi pemuda, yaitu ilmu dan takwa. Bagaimana jika hanya salah satu yang mereka miliki? Fakta menjawab, lahirnya generasi muda setengah manusia. Pemuda semacam ini belum ideal untuk menjadi pemuda harapan bangsa. Berilmu tapi tak berakhlak, akan melahirkan para Qorun atau Fir’aun baru. Jelas ini menjadi problematika besar. Sedangkan takwa tanpa ilmu laksana omong kosong tak berarti. Ketakwaan yang lahir dari pemahaman dan pengertian yang sangat dalam dan kausal yang jelas.

Pemuda yang diharapkan itu harus memenuhi dua kualifikasi utama sebagai berikut: Pertama, kehadirannya tidak membuat atau menambah masalah. Kedua, kehadirannya memberi solusi atas masalah yang timbul disekitarnya.

Jika dibuka kembali lembaran-lembaran sejarah, lahirnya suatu peradaban di bangsa manapun tidak luput dari peran para pemudanya. Di Indonesia misalnya, perjuangan untuk menggenggam kemerdekaan hingga pada pembacaan naskah proklamasi juga atas dukungan pemuda. Begitu dengan peralihan kekuasaan dari orde lama ke orde baru hingga orde reformasi juga dimotori oleh pemuda, khususnya mahasiswa.

”Berilah aku sepuluh orang pemuda, akan aku guncangkan dunia” mengutip pernyataan bapak proklamator Ir. Soekarno. Telah dilegalkan bahwa eksistensi pemuda dalam sebuah negara menjadi penentu masa depan negara tersebut. Pemuda adalah aset bangsa yang sangat berharga yang perlu mendapatkan perhatian intens dari berbagai kalangan. Para petinggi (generasi tua) memiliki tanggung jawab memberikan pendidikan yang layak, mengajarkan moral, dan keteladanan. Sangat jelas bukan? bahwa pemuda adalah tonggak perubahan suatu bangsa.

Sebagai pemuda yang tentu diharapkan bangsa ini, selayaknya kita menyikapi kondisi negeri yang tengah porak-poranda saat ini, senantiasa bersiap dan siap. Menjadi suatu keharusan kita untuk berpikir universal, berpandangan lurus kedepan. 

Apa kabar pemuda Indonesia? Ada baiknya kita cermati dulu bangsa ini, ya! Indonesia, maka akan tercermin tentang gambaran pemudanya. Bumi pertiwi kita yang kaya akan konflik. Setiap waktu selalu saja menambah konflik. Konflik lama belum selesai, timbul lagi yang baru terus berdatangan berkelanjutan. Sebut saja kenaikan harga sembako, kekuarangan air bersih yang tengah terjadi saat ini, banjir dimusim penghujan, gempa, tanah longsor, sampah, tsunami, pesawat udara terjatuh, DB (Demam Berdarah) berjangkit, difteri, AIDS dan HIV, narkoba merajalela, curanmor, miras, korupsi yang akhir-akhir ini menjadi tren, free seks, dan masih banyak lagi. Semua datang terus dan silih berganti, seperti sebuah siklus, yang mata rantainya belum juga terputuskan. Inilah pekerjaan rumah bangsa, PR kita pemuda Indonesia.

Para Pemuda, pilih gincu atau garam? Kalimat ini merupakan analogi cerdas, sederhana, dan bermakna dalam. Mari kita tinggal pilih. Apakah kita ingin memilih gincu atau garam. 
Ketika pemuda memilih gincu, artinya pemuda hanya mampu memberi perubahan dan pengaruh eksternal saja. Gincu itu norak, esensinya hanya pemanis pandangan yang dipoles diluar tidak mendalam yang pengaruhnya hanya sesaat, yang mana jika tersapu air atau minyak gorengan saat makan ia pudar, yang tersisa hanya garis bibir yang mungkin hitam, coklat atau pucat dan itu tidak nyaman untuk dilihat kembali. Khususnya mahasiswa hanya mampu aksi-aksi seperti demonstrasi, turun ke jalan-jalan, berorasi hebat di lapangan terbuka, menyuarakan aspirasi rakyat di depan gedung DPR-DPRD. Baiklah, aksi selesai, buku agenda ditutup rapat. Jarang ditemukan langkah-langkah jitu selanjutnya. Itulah gincu, yang hanya tampak sesaat. 

Beruntungkah jika kita memilih jadi garam? Lain halnya ketika pemuda memilih jadi garam, aksinya seperti garam. Garam bersifat dinamis. Ia yang awalnya tampak setelah dikolaborasikan dengan berbagai macam olahan tak terlihat namun meberikan rasa yang membuat sumber lain terasa nikmat tanpa henti dari waktu ke waktu seperti itu, yang biasanya penuh kehati-hatian dalam takaran pemasangannya. Ia terasa dan memberi rasa tanpa kenal pamrih, tak terlihat namun terasa. Di dalam garam pun tersimpan energi rasa yang luar biasa besar, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, yang siap mempengaruhi dan memberi rasa yang nyata pada setiap takarannya.

Saya terkesan dengan penuturan PM Inggris, Winston Churchill, orang berpengaruh pada Perang Dunia II. Dalam penuturannya dengan lantang ”Saya tak memiliki persembahan apapun selain darah, kerja keras, air mata, dan keringat.” Bagaimana dengan kita pemuda Indonesia? Tentunya kita tidak ingin tidak berpartisipasi buat negeri ini. Marilah sejenak berpikir, apa yang akan kita berikan buat negeri ini, bukan apa yang kita dapat dari negeri ini.

Sebagai agent of change (agen perubahan) harus mengetahui problem-problem pada negeri ini. Kita berjuang untuk mampu memberikan solusi logis untuk bangsa ini. Pemuda harus menyadari bahwa ada empat pondasi yang harus ada pada diri kita. Keempat pondasi itu adalah iman, amal semangat, dan ikhlas. Itulah karakter utama pemuda. Pemuda yang baik selalu berusaha mengevaluasi dirinya sendiri. Sudahkah kita memiliki iman yang kuat, amal, senantiasa bersemangat, dan ikhlas dalam kebajikan berbagai aktivitas. Bijaksana, menjadi keharusan kita untuk berpikir berpandangan lurus kedepan. Selain itu, introspeksi diri adalah langkah prestatif dan solutif. Seseorang yang selalu memusabahah dirinya, maka ia akan mengenal pribadi dirinya. “Dan siapa saja yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya” begitu kiranya.

Kepada segenap pemuda di bumi seantero ini. ”Dari sekarang, tunjukan kiprahmu! Tunggu apalagi ...” Sebagai pemuda, semangat juang dan tekad persaudaraan harus tertanam kuat pada dirinya. Para generasi muda diminta untuk mewujudkannya dalam kehidupan ini dan untuk bangsa ini.

Para penyair berpesan, ”Wahai pemuda. Selagi sang surya memancarkan sinarnya di ufuk timur sana. Singsingkan lengan bajumu. Ambil perahumu. Dayungkan ketengah-tengah lautan. Bila....Patah pendayungmu. Dayungkan tanganmu. Robek layarmu. Buka bajumu, kau ganti layar. Pecah sampanmu. Renangi lautan. Asalkan bisa dapat apa yang kalian cita-citakan. Yakni, negara yang aman dan makmur dibawah lindungan Allah.” Di sini letak rahasia membangun kesatuan dan persatuan bangsa ini, sebagaimana yang tertuang dalam Pancasila di sila ketiga, dan UUD 1945 alinea IV. Pemuda merupakan pemegang kendali masa depan negeri ini. Kesetiaannya terhadap bangsa ini adalah kebahagian untuk segenap komponen bangsa.

Oleh: Yuliatin Kaswari merupakan pemenang lomba Esai yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa STITAL.

COMMENTS

Nama

Artikel,8,Kolom,2,News,168,Opini,30,Resensi,1,Sastra,9,
ltr
item
Lembaga Pers Mahasiswa STITAL: Eksistensi Pemuda Dalam Persepsi " Gincu atau garam" ?
Eksistensi Pemuda Dalam Persepsi " Gincu atau garam" ?
https://1.bp.blogspot.com/-Mh9SfRriK4A/XkuS-Ih6MXI/AAAAAAAAB60/iyvETPXyOXQG3W7c4YBtNgbDwBGthJP8QCLcBGAsYHQ/s320/IMG_20200218_143113.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-Mh9SfRriK4A/XkuS-Ih6MXI/AAAAAAAAB60/iyvETPXyOXQG3W7c4YBtNgbDwBGthJP8QCLcBGAsYHQ/s72-c/IMG_20200218_143113.jpg
Lembaga Pers Mahasiswa STITAL
http://www.lpm-mental.com/2020/02/eksistensi-pemuda-dalam-persepsi-gincu.html
http://www.lpm-mental.com/
http://www.lpm-mental.com/
http://www.lpm-mental.com/2020/02/eksistensi-pemuda-dalam-persepsi-gincu.html
true
7163121057848605904
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy