Ketika Asa Tak Dapat Diraih

                                          Sumber : google Panggilan kasih itu terdengar jelas dan indah. Membuat tenang siapa sa...


                                         
Sumber : google

Panggilan kasih itu terdengar jelas dan indah. Membuat tenang siapa saja yang mendengarnya. Perlahan para santriwan dan santriwati melangkahkan kaki menuju dekapan sang pencipta.
Terlihat seorang santriwati berjalan dengan senyum tipis di wajahnya. Begitu tenang. Begitu anggun. Matanya menyiratkan kebahagiaan. Langkahnya terhenti di depan sebuah bangunan besar dan indah. Matanya menatap sebuah kubah di atas bangunan itu. Dengan tersenyum ia mulai melangkahkan kaki memasuki bangunan itu. Gadis itu segera mengambil wudhu’ dan menyatu dengan teman-temannya yang telah lebih dulu tersungkur dihadapan sang ilahi.
Gadis itu melangkahkan kakinya meninggalkan bangunan itu. Tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Raina.” panggil sebuah suara. Gadis itu menoleh.
“Iya ustad, ada apa?” tanya Raina.
“Bagaimana perkembangan bahasa Arabmu?” Tanya sang ustad.
“Alhamdulillah ustad.” 
“Alhamdulillah kalau begitu. Sebentar lagi ada penyeleksian bahasa Arab untuk dikirimkan ke Cairo, Mesir. Saya berharap kamu bisa mengikutinya.” jelas ustad itu.
“Iya ustad. Terima kasih atas infonya” ucap Raina sambil tersenyum. “kalau begitu saya pamit ustad.”
“Iya silahkan.”
Raina melangkah pergi. Ia memasuki sebuah bangunan bertuliskan “pondok pesantren Al-Ijtihad” ia memasuki sebuah kamar berukuran 3x4. Setelah menaruh mukena yang dari tadi dibawanya, Raina duduk di depan lemarinya. Matanya terpejam. Bibirnya melantunkan hafalan bahasa Arabnya degan suara lirih.
“Raina, kamu sudah denger kabar penyeleksian?” tanya seorang teman. Raina mengangguk. 
“Baguslah aku harap kamu bisa ikut dan menang.”
“Amin.”
Salah satu impian terbesar Raina adalah belajar di Mesir. Dan kali ini, ia tak kan melewatkan kesempatan emas ini. Ia harus bisa dan berhasil. Ia harus bisa membanggakan kedua orang tuanya dengan berangkat ke Mesir. Ia yakin pasti bisa.
Hari mulai merambat gelap. Suasana sunyi, hanya bunyi jangkrik yang terdengar bersahutan menambah mistis suasana malam itu. Raina mulai menata tempat tidurnya. Ia merebahkan tubuhnya. Begitu nyaman, perlahan mata Raina mulai terpejam.
Mata Raina terbuka. Keheningan melanda. ‘Dimana aku?’ pikir Raina. Sesosok bayangan yang dikenal Raina hadir. Bayangan itu mendekati Raina dan tersenyum.
“Kiai.” ucap Raina.
“Iya Raina. Raina, ketahuilah! Bahwa cita-cita adalah masa depanmu. Tapi jangan sampai cita-cita itu membuatmu lalai pada kewajibanmu.”
“Maksud kiai?” tanya Raina tak mengerti.
“Kau akan mengerti jika waktunya telah tiba.”
Perlahan namun  pasti bayangan sang kiai itu menghilang. Raina kembali sendiri, tiba-tiba saja ia terbangun dari tidurnya.
“Ya Allah, cuma mimpi.”
Hari-hari berlalu meninggalkan hari kemarin. Tapi bayangan mimpi itu terus hadir dalam memori ingatan Raina. hari penyeleksian bahasa Arab itu pun tiba. Raina mulai bersiap karena sebentar lagi namanya akan dipanggil.
“Raina Kumala Sari.”
Raina bangkit dari duduknya dan naik ke atas panggung. Tantangan demi tantangan diterima Raina tapi ia bisa melewati semuanya dengan mudah.
Setelah acara itu selesai, para peserta bersitegang menanti siapa yang akan diberangkatkan ke Cairo, Mesir.
“ Baiklah, sekarang tiba saatnya untuk mengumumkan siapa yang akan dipilih untuk berangkat ke Cairo. Yang pertama ialah Muhammad Shaif. Yang kedua adalah Ayu Widiarti yang terakhir ialah...... Raina Kumala Sari.”
 Gemuruh tepuk tangan membahana di dalam ruangan iu. Senyum bahagia terulas di wajah indah Raina. akhirnya, impiannya tercapai.
Raina memasuki pesantrennya dengan perasaan yang sulit di artikan. Ucapan selamat mengalir untuknya. Hal pertama yang dilakukan Raina di tengah kebahagiaannya ialah menghubungi kedua orang tuanya. Tut..... tut......
“Assalamualaikum, bu.” sapa Raina girang
“ Waalaikum salam, Raina.” balas sang ibu.
“Bu, Raina lulus seleksi. Raina bisa berangkat ke Mesir bu.” papar Raina. Tak ada tangapan dari ibunya.  
“Bu, ibu kok diem. Ada apa bu?” tanya Raina.
“Tidak ada apa-apa Raina. Tapi lebih baik, kamu tidak usah pergi ya?” ujar ibu Raina. Raina kaget.
“Kenapa bu?” 
“Ibu dan bapakmu ini sudah tua Raina. Jadi kami tidak ingin jauh darimu. Jika terjadi sesuatu pada kami, siapa yang akan mengurus kami kalau bukan kamu?” ujar ibu Raina memberi penjelasan. Raina mengerti maksud ibunya. Air matanya meleleh mengingat perjuangannya selama ini sia-sia. 
“Yasudah bu, tidak apa-apa.” ucap Raina pasrah. Komunikasi terputus. Raina berjalan lemah menuju kamarnya. Ucapan selamat dari teman-temannya tak ia respon dengan baik. Hatinya sudah terlanjur hancur dan perih. Hanya air mata yang menggambarkan bahwa dirinya tengah terluka. 
Bulan-bulan berlalu. Pemberangkatan ke Mesir itu pun sudah menjadi masa lalu. Raina mencoba untuk melupakan mimpinya dan membentuk masa depan yang baru. 
Beberapa hari setelah hari itu, Raina mendapat kabar bahwa ibunya sakit. Dengan segera Raina bersiap menunggu jemputan. Tak lama setelah Raina siap, pamannya datang dan langsung meminta izin pada pengasuh pesantren. Setelah semuanya selesai, Raina pulang. Tapi ia tidak menuju rumahnya melainkan menuju rumah sakit karena ibunya berada disana. 
Sampai di rumah sakit, Raina segera menuju ruang UGD. Matanya sudah basah sejak dari pesantren ditambah melihat sang ibu tergeletak tak berdaya, air mata Raina deras mengalir, tangisnya pecah. Pelukan sang ayah mampu membuat Raina jauh lebih tenang. 
“Ibu sakit apa yah?” tanya Raina ditengah isak tangisnya.
“Ibumu....terkena kanker otak.” pelan ayah Raina. Raina kaget. 
“Apa? Kanker?” tangisnya kembali pecah.
Seorang perawat keluar dari UGD dan menyampaikan bahwa pasien ingin bertemu dengan Raina. Raina masuk mengikuti perawat itu. Ketika tiba di samping sang ibu, Raina segera membenamkan dirinya dalam pelukan hangat sang ibunda. Banjir air matapun tak dapat dihindari.
“Kenapa ibu tidak memberitahu Raina?” tanya Raina parau.
“Ibu tidak ingin mengganggu konsentrasi belajarmu nak.” jawab ibu Raina lemah.
Raina terdiam. Fikirannya mengenang memori ingatan masa lalu dimana ia bermimpi bertemu dengan sang kiai. ‘Ketahuilah! Bahwa cita-cita adalah masa depanmu. Tapi jangan sampai cita-cita itu membuatmu lalai pada kewajibanmu.’
“Ya Allah.” rintih Raina.
Raina tersadar. Selama ini kesibukannya menghafal dan melatih kosa kata bahasa Arab telah membuat dirinya jarang menghubungi orang tuanya seperti sebelumnya. Pesan itu terus terngiang-ngiang di telinga Raina. Air mata Raina kembali pecah.
Begitulah yang terjadi dalam hidup. Setiap sesuatu pasti menuai hikmah dan terkadang juga menuai penyesalan.

Oleh : Nurfa An-Nasir

COMMENTS

Nama

Artikel,8,Kolom,2,News,168,Opini,30,Resensi,1,Sastra,9,
ltr
item
Lembaga Pers Mahasiswa STITAL: Ketika Asa Tak Dapat Diraih
Ketika Asa Tak Dapat Diraih
https://1.bp.blogspot.com/-Ia5TvW5Bujo/Xv2U5svj7II/AAAAAAAACJI/1kDl1HX5KHwc0Nh5B6L5ZOxP4H2P5SOegCLcBGAsYHQ/s320/IMG_20200702_145907.JPG
https://1.bp.blogspot.com/-Ia5TvW5Bujo/Xv2U5svj7II/AAAAAAAACJI/1kDl1HX5KHwc0Nh5B6L5ZOxP4H2P5SOegCLcBGAsYHQ/s72-c/IMG_20200702_145907.JPG
Lembaga Pers Mahasiswa STITAL
http://www.lpm-mental.com/2020/07/ketika-asa-tak-dapat-diraih.html
http://www.lpm-mental.com/
http://www.lpm-mental.com/
http://www.lpm-mental.com/2020/07/ketika-asa-tak-dapat-diraih.html
true
7163121057848605904
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy